
Ada sebuah kejadian lucu yang baru aja aku alami kemaren, tentang proses interview ku dengan Talent Source. Aku sebenarnya engineer atau Marketer/Orang Selling? Begini kronologisnya
The Story
Kemaren, Senin 4 Februari 2008 pukul 08.30 tiba-tiba ada panggilan interview Talent Source untuk program trainee calon karyawan yang bakal disalurkan ke Smart dan Mobile-8. Dan yang bikin kaget adalah, iterview diadakan pukul 09.00. Langsung bergegas pulang ke kost gak pake acara mandi cuman cuci muka dan sikat gigi plus ganti baju formal. Langsung ngebut dan berlari. Untung sampai tempatnya masih preview dan pengarahan untuk program test berikutnya. Kukira yang bakal masuk di ruangan ini ada banyak orang, tetapi kenapa cuman 9 orang dari sekian banyak peserta yang mendaftarkan diri. Ah sudahlah, mungkin saja aku beruntung kali ini.Setelah preview selesai, langsung para peserta keluar ruangan untuk dipanggil wawancara satu per satu. Satu per satu peserta pun masuk. Dan satu persatu pun keluar dengan ekspresi yang berbeda-beda kayak habis audisi American Idol. Ternyata tiba giliranku, yaitu giliran terakhir.
Di situ ada 3 pewawancara dan aku kebagian yang wanita (ibu siapa ya namanya… aduh waktu ngetik ini lupa…). Sebelumnya aku sudah sering mendengar cerita-cerita orang tentang bagaimana trik pada saat interview dan kali ini aku coba untuk praktekkan. Mulai dari cara buka pintu, cara melongok ke dalam, dan senyum pertama dari jauh, sampe cara berjalan masuk tak lupa. Yang ini sudah cukup biasa aku lakukan. Pokoknya segala trik bertemu dengan orang baru deh.
Dalam ruangan itu ada peserta laen yang sedang diwawancara pula, namun dialog mereka terasa hening layaknya Polisi sedang menginterogasi tersangka. Aku mulai dengan menyalami si Ibu, kemudian tersenyum menanyakan apa kabar. Dengan senyumnya yang lebar itu pula si Ibu membalas dan menyuruh ku duduk.
Kemudian aku disuruh bercerita tentang diriku. Aku tahu aku tidak boleh standart menceritakan tentang aku. Aku tidak menyebutkan secara standar tentang aku. Bukan “Ya… nama lengkap saya…. tanggal lahir saya… nomor induk saya…. jurusan saya….“, tetapi aku cerita “Saya anak pertama dari empat bersaudara, kalau kata Personality Plus saya adalah koleris melankolis, tetapi versi berbeda dari 12 tangram kepribadian mengatakan kalau saya adalah seorang Advanturer. Di kala senggang saya… selain kuliah saya juga menghabiskan waktu dengan aktivitas seperti….” yah pokoknya cerita panjang lebar lah.
Sampai pada akhirnya bertanya tentang pekerjaan impian, sampai dengan mengapa saya kuliah di IT Telkom dengan jurusan S1-Informatika. Sampai tentang aktivitas saya di luar kampus yang seabrek. Sampai pada akhirnya kami bisa ngobrol dengan akrab, bahkan percakapan tidak terjadi dengan satu arah, melainkan dua arah. Saya menanyakan tentang putrinya yang kebetulan sedang dibawa, tentang beliau lulusan mana, asal dari mana, dan sebagainya… sampai ngobrol bahasa jowotimuran. Kami tertawa ngakak dalam wawancara itu.
Sampai pada akhirnya beliau berkata, “Hmmm…. Mas Deniar… saya ada sesuatu, but saya tidak bermaksud tidak menyukai Anda. Tapi sepertinya Anda lebih cocok untuk menjadi orang Selling atau Marketing daripada seorang Engineer yang kerjaannya seharian duduk dan berkomunikasi dengan mesin/komputer, bukan dengan orang-orang di sekitar Anda. Dan sebagai seorang fresh graduate Anda memiliki talenta yang bisa dibilang sangat bagus untuk mengarah ke sana. Jadi Anda serius ingin menjadi Engineer?“.
Wow pertanyaan yang cukup berat, aku suka berdiskusi dan beranalisis. Namun aku juga manusia yang haus untuk berkreasi baru dan berkomunikasi dengan orang baru. “Oooww… begitu ya Bu“. Kemudian Beliau melanjutkan, “Anda seharusnya memang lebih cocok dengan pekerjaan selling, PR, atau yang banyak bertemu dengan orang baru. Coba deh Mas juga apply ke job-job seperti itu“.
Memang ada keinginan yang sangat mendalam untuk mengarah ke sana. Tetapi gimana donk… kalo daftar job yang pertama kali bertatap muka dengan perusahaan kan bukan muka ku, melainkan adalah CV dan ijazah. Memang bisa liat mukaku lewat foto, tapi apakah bisa menunjukkan kalau aku puya potensi ke arah sana dari foto saja. Takut-takut karena aku dibilang mirip Delon (holohh….) atau Irsan Indonesian Idol, ntar dikiranya aku nyasar, ntar dibilang “Mas di sini bukan audisi Indonesian Idol“.

Akhirnya diskusi kami berlanjut ke arah menjadi seorang Marketer orang Selling. Di akhir dia menambahkan kata-kata yang membuatku cukup berbunga-bunga, “Dari Mas masuk, dari kegiatan mas menunggu di luar sambil mengajak berbincang semua orang, cara berjalan masuk ke ruangan ini, percakapan Mas yang bisa buat diri Mas dan pewawancara merasa comfort, cara menyapa, mejawab pertanyaan. Saya juga melihat dari aktivitas mas yang seabrek penuh dengan hal-hal baru dan mengharuskan Mas bertemu dengan orang-orang baru. Saya gak meragukan lagi potensi diri Mas. Malah saya sangat sayang, kalau Mas jadi engineer. Kalau di sini ada marketing, saya langsung memasukkan Mas“.
“Owww gitu ya Bu, yah.. Marjuki kacang tanah deh bu…..“,
“Apa itu?”
“Kalo rejeki gak kemanah…”
“Ho ho ho…” kami berdua tertawa bersama. Haduh pengalaman interview yang membuatku geli. Sering kali ngobrol dengan orang-orang yang pada bingung gimana menghadapi interview, sampai ada yang bingung mengatasi gugup berbicara dengan orang. Secara teman-temanku adalah anak-anak teknik, dan anak-anak yang berkecimpung di dunia IT. Bahkan mereka lebih sering bercakap dengan komputer/mesin daripada bercakap dengan orang. Yah mungkin meminjam istilah orang dengan kata ‘skeptis’ dan rada ‘authis’. Yah begitulah kebanyakan dari kami para engineer.
Kayaknya kalau mau daftar lagi yang seperti itu, aku harusnya rada ngerem dan rada berpura-pura ‘skeptis’ dan ‘authis’ ya. Di saat yang lain bingung gimana cara membuat diri nyaman dan bisa menjawab pertanyaan di wawancara. Aku bingung gimana caranya ngerem diriku ini yang bisa jadi terlalu over untuk wawancara kelas engineer.
Aku pulang wawancara dengan tersenyum-senyum geli setengah menyesal. Di satu sisi ketawa, di satu sisi menyesal. Yah, Marjuki kacang tanah. Kalo rejeki gak ke mana.
Extended – The Tips

Kalo bingung menghadapi interview, berikut adalah beberapa tips dari aku yang mungkin bisa membantu:
- Untuk pakaian gunakan pakaian yang sesuai dengan Anda, tetapi tidak usah terlalu dipaksakan. Misalkan berlagak sok menjadi pria/wanita karier tetapi justru bikin gak comfort. Pilih juga yang bagus, menarik, dan yang penting adalah Anda comfort. Sebagi saran juga pilih atasan berwarna cerah. Terutama untuk orang-orang yang sering begadang malam berkomputer atau ngeblog ria, agar pada saat bangun pagi muka tersamar pakaian terlihat segar.
- Latih cara berjalan cepat dan pasti. Tidak usah terlalu cepat namun langkah Anda pasti, dan terasa pada saat melangkah Anda adalah orang yang optimis dan punya tujuan/arah. Berjalanlah seolah-olah Anda di atas panggung, dan ribuan mata sedang mengamati Anda. Belajarlah dari Indonesian Idol/ Mamamia.
- Senyum, ini pasti. Senyum yang bagus adalah senyum yang simetris 2 cm kiri dan 2 cm kanan, atau aku bilang senyum ala ESQ. Dan sesekali untuk merespon cerita orang, senyum nya diperlebar dengan sedikit membuka mulut sekitar 2 jari. Seolah kamu terkesima dengan cerita dan responnya. Pada saat teresenyum tersebut latih juga alis kamu dengan sedikit terangkat. Coba bercermin seolah Anda terkesima dan sedikti terkejut.
- Salamilah orang di depan Anda, jabatan tangan mantap dan pasti. Untuk ke wanita jangan terlalu keras, nanti kesannya mengintimidasi. Pertahankan salam (jabat tangan) Anda sekitar 2-3 detik, kalau Anda rasa dia memiliki power atau kharisma yang besar, gunakan sedikit menaik dan turunkan tangan secara lembut dan mantap agar power/kharisma Anda meningkat juga di depan dia (secara psikologis), setidaknya seimbang. Karena pewawancara biasanya sangat sering menghadapi orang dan dia pasti memiliki kharisma yang lebih. Perhatikan juga tatapan mata kamu, tatap mata lawan Anda, dan pastikan Anda seolah sedang menyelami pribadi lawan Anda. Sambil tanyakan apa kabar, atau perkenalkan diri Anda, dan jangan lupa pula tanyakan nama lawan Anda. Jangan pernah melepas terlebih dahulu, setidaknya sampai dia menyebutkan nama atau mempersilahkan duduk.
- Duduklah dengan santai, tidak tertutup dan badang condong ke depan. Pada saat berbicara setidaknya tataplah mata pewawancara sekitar 2/3 dari total percakapan. Buat tatapan Anda terlihat menarik di depan dia. Bayangkan seolah seperti Anda sedang menatap seoarang artis. Anggap lawan bicara Anda adalah seorang Artis seperti Nia Ramadhani atau VJ Rianti. Sesekali sedikit menganggukan kepala ketika dia bercerita, seolah kami mengiyakan dan seperti berkata “Ooo… benar juga ya”.
- Pembicaraan jangan sampai kaku, buat diri Anda juga bisa mengekspresikan diri, tetapi jangan terlalu over seperti yang terjadi di American Idol. Berkespresi diri namun cukup polite dan terkontrol. Ini akan membuat diri anda comfort. Dan jangan lupa untuk kadang kala berdiskusi dua arah, sehingga pewawancara juga merasa comfort dan senang dengan Anda.
Yah mungkin sedikit dulu tips dari aku, semoga bisa bermanfaat. Mungkin masih banyak tips lain yang bisa Anda pelajari di sumber-sumber lain. Dan yang paling penting adalah mengasah mental Anda untukbisa bercakap-cakap dengan orang baru. Seringlah berlatih untuk bercakap dengan orang baru, dan Anda akan menemukan cara-cara di atas secara natural. Yang penting adalah sering berkomunikasi (jangan dengan mesin/komputer doank) dan cari kegiatan yang mengharuskan Anda bertemu dengan orang baru.



February 4th, 2008 at 9:57 pm
hahahahah! emang bener tuh! ga cocok jadi programer deh! mending jadi ….
saya banyak belajar kok dari mas den! tapi tetep aja kaya gini2 aja! *lebih lancar ngobrol via ym, dibanding…*
February 5th, 2008 at 12:42 am
makanya
kalo pedagangnya jualan kacang maka pembeli belinya pasti kacang
kalo pedagangnya jualan singkong ya pasti pembelinya beli singkong
you got me ?
February 5th, 2008 at 12:54 am
lha emangnya ada ya Idol yang namanya Irsan??
Ridu jadi deg2an gimana kalo ridu diwawancara nanti yah?? tips nya boleh juga tuh.. ya walopun kita tau Marjuki kacang tanah, tapi kita juga harus tetep do the best! Salut deh buat deniar.. gudlak yah buat kariernya!
February 5th, 2008 at 8:41 am
berarti kalo mau ngelamar di bidang engineer harus “berperan” sebagai geek.. hehe.. mas deniar jadi marketing aja kayak saya.. potensi penghasilan dibatasi oleh langit (katanya) hehehe tapi bener juga lho
February 5th, 2008 at 8:58 am
wow, cerita yang menarik. jadi tambah ilmu neh buat terjun ke dunia kerja. thx ya mw berbagi pengalaman yang bermanfaat kayak gini. good luck deh buat kak deniar
February 5th, 2008 at 9:49 am
@gaw
wah emang mending jadi tukang jualan ya… kalo gitu buat apa donk ijazah S1 Informatika ku, he he he….
@Fajar
Mencoba untuk mengerti… jadinya mending jualan apa nih kacang atau singkong?
@ridu
Irsan idol, lah aku juga ndak tau… itu juga kata orang. Aku gak terlalu ngikutin Idol yang dulu-dulu. Terima kasih, jadi tersanjung. Thanks juga udah baca postingku yang panjang ini.
@jimmy
Mungkin aku cocoknya jadi marketer yang musti ketemu langsung ama orang dan pangsa pasarnya. Padahal menurut pandanganku, marketing dan selling itu berbeda.
@scratchz
Ok deh…. jangan sungkan2. Ilmu yang berguna adalah yang bermanfaat dan diamalkan/dibagi
February 5th, 2008 at 8:21 pm
den,…
nyari sponsor yuuuk,..
hhehehee
February 5th, 2008 at 11:19 pm
@ajinugroho
Buat apaan ji….?he3 jadi ingat masa lalu nih…….
February 6th, 2008 at 2:44 am
Huahahahaha… lucu juga pengalaman mu mas… terima kasih sudah berbagi tips & rik nya….
Semoga mas menjadi seperti yang mas inginkan…
February 6th, 2008 at 8:45 am
aku lebih cocok engineer nih
btw, nice artikel. thanks
February 6th, 2008 at 10:19 am
hahah… aku ndiri bingung aku kurang geek apanya sih?
aku juga kadang heran, mereka menilai gitu caranya gimana ya… hm… soalnya pernah ngobrol-ngobrol sama orang HRD dari suatu perusahaan multinasional, katanya aku juga lebih cocok buat jadi public speaker! (mungkin dia mau bilang lebih cocok kamu “jualan jamu” aja tapi ga tega)
February 6th, 2008 at 11:08 am
punya keahlian di dua bidang yg berbeda itu enak lho..
February 6th, 2008 at 11:34 am
@Tedy
Amin.. doain aja ya… Nuhun
@udjo
Sama-sama, senang bisa berbagi
@Wirawan Winarto
coba aja jadi public speaker siapa tahu ternyata emang bisa…
@huda
Yup, jadi bikin lebih hidup… Ganbate!
February 6th, 2008 at 12:04 pm
saya cocok jadi apa yah???
kepalah rumah tanggah kaleeeee……..
February 6th, 2008 at 7:46 pm
hihihi, ketawa geli deh. Padahal Deniar itu kesan pertama cukup pendiam lho nggak nyangka ternyata bisa sebawel di atas
February 6th, 2008 at 8:03 pm
@erween
Sama kau juga ween… jadi tukang jual obat he he he… (kayak aku donk)
@enggar
He he he… kesan pertama begitu menggota, selanjutnya terserah Anda
February 9th, 2008 at 2:21 am
mas, lowongannya dapet darimana?
interview dimana ?
February 11th, 2008 at 1:58 am
wah pengalaman yang bagus banget Den….apalagi liat gambar di artikel yang “feelings, more than feelings that i’m right for this job” wahahahha asli kocak banget…moga2 Deniar gak gitu pas interview kmrn yak
meski si ibu itu baek dgn memberitahu bakat deniar di bidang marketing….saya tetap suka dengan kata2 deniar yang tetap rendah hati maksutnya menyadari kalo image seorang engineer adalah demikian2 dan deni gak masang image tsb waktu interview kmrn….di sisi lain emang gak rejeki yah cuma di sisi lainnya lagi, deni bisa lgsg mengkoreksi diri sendiri dan tdk menyalahkan org lain begitu aja…wow adalah sikap yang mulia loh Den….gue yakin elu bisa dapet kerja di tmpt yang lebih bagus….di dunia kerja dicari orang jujur, rendah hati, mau kerja keras dan mau belajar….empat sifat itu udah ada di diri deniar, insya Allah lancar
btw, besok2 mandi dulu biar seger ya….hehehe, sukses
February 11th, 2008 at 2:08 am
@muhammadamrul
Lowongannya dapet dari kampus. Interviewnya juga di daerah2 kampus juga…..
February 11th, 2008 at 2:13 am
@Yonna
sudah2….:D
Aduh jadi malu nih….
February 11th, 2008 at 2:18 am
yeeeyyy
cuma meski insinyur, menurutku ilmu marketing berlaku utk profesi apapun, termsk insinyur yang katanya autis dll tetep hrs punya keahlian marketing….meski gak gape2 bgt tapi ada dikit2 lah…
sudah2…sini saya pegangin kakinya biar gak terbang hahahah
February 11th, 2008 at 11:27 am
@yonna
aku terbang ketiup angin karena kekurusan he he he…
yup multi talent lebih bagus….
March 23rd, 2008 at 12:10 am
Den udah lah ijazah S1 buat bikin loe jadi marketer bidang IT (Kan beres tuh)
March 23rd, 2008 at 3:19 am
@bayuhebat
Nah itu dia, beratnya ijazah engineer IT langsung ke marketing. Gak papalah ntar begitu udah didalam langsung kejar bidang marketing. Kalo gak ambil S2nya bidang marketing
June 20th, 2008 at 2:00 am
huahahaha…
hebring bo ya kak deniar,udah baca postingnya,dpt tempat kedua di hati telkom yak buat blognya,trus skrg dibilang cocokz buat marketing…bole juga lo kak! Toh engineer juga musti bisa jualan produk telco toh..Tapi emang susah sih ya,kita ngerasa comfort dimana,eh orang lain yang kayaknya lbh pengalaman(interviewer) malah liat kita beda..Btw sukses ajah ama semua usahanya, yg penting teteup mamajukan n bawa nama baik IT TELKOM tercinta,hukhuk..
June 20th, 2008 at 2:37 am
@olinehai
iya bener juga tuh harus bisa jualan. Minimal jual ide lah ke rekan kerja. Sip2 memajukan almamater